Sabtu, 31 Maret 2012

Nasionalisme Indonesia Dalam "Ancaman"?


MOMENTUM Kebangkitan Nasional yang dikonstruksi pada tahun 1908 merupakan titik yang sangat signifikan bagi kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk merekatkan
elemen-elemen yang berbeda dalam satu naungan negara-bangsa yang bernama Indonesia.Dari momentum Kebangkitan Nasional 1908 tersebut, paling tidak terdapat dua factor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia.



Pertama, pemuda yang menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi lokomotif perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia pasca kemerdekaan.
Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998.
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan.
Dari gugusan sejarah Indonesia yang jangan pernah dilupakan adalah bahwa kontribusi terbesar terbentuknya sejarah Indonesia karena adanya komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda di masa lalu.
Namun, kita tentu tidak berharap bahwa roda sejarah harus terhenti karena pemuda Indonesia hari ini kehilangan vitalitas ekspresi
perannya dalam perubahan keindonesiaan, menghadapi tantangan kesejarahan yang semakin berat, dengan kecenderungan sosial yang semakin masif dan dinamis.
Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus
dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah,
dalam tujuan dan cita-cita bersama: memajukan Indonesia, dapat disepakati, dan diimplementasikan secara bersama.
Komitmen dan ketulusan daerah dalam proses terbangunnya bangsa ini sangat tidak pantas untuk dipertanyakan kembali. Goresan tinta sejarah bangsa ini teramat berarti bagi komponen bangsa ini, terutama daerah. Eksistensi daerah
saat ini tengah menampakkan keceriaannya, setelah sebelumnya tampak kusam akibat paradigma kekuasaan masa lalu, yang memersepsi lahan sosial Indonesia dalam bingkai homogenisasi.
Pola tersebut selanjutnya menempatkan entitas daerah dengan segala bentuk, simbol, dan aktivitasnya sebagai sebuah ancaman bagi ikatan nasionalisme atau integrasi nasional. Mungkin penerapan kebijakan homogenisasi tersebut
dianggap tepat, lantaran paham kedaerahan yang sempit terbukti di banyak negara menimbulkan persoalan yang berimplikasi bukan saja pada ancaman persatuan dan kesatuan nasional, namun juga terjebak dalam konflik sosial antaretnis berkepanjangan, yang pada akhirnya memorak-porandakan bangunan sejarah suatu bangsa.

Namun, fenomena daerah setelah beberapa waktu berjalan dapat menikmati "kebebasannya" dari kooptasi sentralisasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, nyatanya belum berada dalam posisi yang kondusif. Kerap
dalam beberapa peristiwa, masih didapatkan kecenderungan yang mempertentangkan pusat dan daerah. Sehingga muncul kecenderungan dekonstruksi nasionalisme bukan reformulasi nasionalisme yang menawarkan wajah nasionalisme yang lebih baik.
Mungkin juga fenomena tersebut sebagai akibat apresiasi dan kepentingan daerah yang belum terakomodasi dalam ruang yang semestinya. Sehingga kecenderungan-kecenderungan mengurangi dominasi kekuasaan pusat atas daerah
tak bisa dihindari. Hanya, memang dalam beberapa hal, kerap dipandang melebihi takaran yang seharusnya.
Peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini (2006), idealnya mampu mengantarkan komponen bangsa ini pada kontemplasi terhadap eksistensi nasionalisme yang tengah berada dalam ancaman. Nasionalisme kita yang tengah berada dalam ancaman, paling tidak diindikasikan semakin panjangnya deretan persoalan kebangsaan, seperti besarnya utang luar negeri, fenomena memudarnya rasionalitas dan praktik kriminalitas sosial yang terus diperagakan dalam lahan sosial Indonesia sehingga muncul sebutan Republic of Horor atau Republic of Fear, menuntut Indonesia untuk memiliki apa yang disebut nasionalisme baru atau paling tidak merevitalisasi nasionalisme kita yang sesungguhnya dibutuhkan bangsa ini agar menjadi sebuah keniscayaan.

Langkah ini barangkali bisa menjadi salah satu alternatif, yang mampu memberikan sumbangan penting untuk turut meminimalisasi pesimistis yang melanda sebagian besar warga negara, agar menempatkan kembali nasionalisme
sebagai sesuatu yang dipahami bersama dalam berbangsa dan bernegara serta mempertahankan nasionalisme dari implikasi negatif globalisasi politik dan ekonomi.
Nasionalisme baru yang hendak ditumbuhkan, selain didorong kecenderungan adanya dekonstruksi berbagai hal, pada sisi lain dalam konteks keidealan, Indonesia memang belum menemukan bentuk nasionalisme yang "konkret", selalu
berada dalam tahapan "pencarian bentuk" (metamorfosis).
Dalam pergumulan wacana seputar nasionalisme sejumlah ahli, semisal Cornelis Lay, mengungkapkan posisi nasionalisme yang terimpit oleh dua kekuatan mahabesar: globalisasi dengan logika dan asumsi-asumsi universalitas, uniformitas, dan sentralisasinya dengan etno-nasionalisme yang berjalan ke arah sebaliknya.
Di tengah impitan arus besar tersebut, nasionalisme baru Indonesia mestinya memiliki cita-cita bersama yang dirumuskan dalam good society, dengan memaknai masa lalu dan merumuskan masa depan dalam kesatuan gerak
masa kini. Alangkah baiknya, untuk menopang proyeksi tersebut, mempertajam apa yang disebut prinsip kewarganegaraan (citizenship), yang memiliki daya seduksi yang sangat besar dalam memenuhi hasrat setiap komunitas dan umat manusia atas persamaan.
Mengapa citizenship layak mendapat perhatian dalam kerangka memperkuat nasionalisme kita? Paling tidak, citizenship merepresentasikan kehendak untuk mengusung partisipasi kualitatif masyarakat, untuk mencapai civil society. Barangkali kita akan sepakat bahwa tidak ada satu pun negara maju yang tidak berlandaskan masyarakat yang kualitatif dalam segala hal. Pun lantaran kewarganegaraan layak dimengerti sebagai jantung dari konsep nasionalisme.
Dengan demikian, semestinya mulai hari ini dan ke depan, kita harus kembali membenahi anyaman sejarah bangsa yang terkoyak di beberapa bagian. Membangun kembali keindahan sejarah melalui jalinan harmonis seluruh kekuatan bangsa,
termasuk elemen-elemen daerah. Upaya mengonstruksi keindonesiaan kita yang lebih baik merupakan sesuatu yang sangat mungkin, seperti yang pernah dibuat pada tahun 1908, yang mampu mengumandangkan ikrar kebangsaan yang
menjadi embrio kebangkitan nasional, dengan kekuatan nasionalisme kita.

Urgensi Nasionalisme Pemuda Indonesia


Nasionalisme bukanlah suatu paham yang baru di republik ini, dengan nasionalisme republik ini menjadi satu, bermartabat, dan merdeka.  Nasionalisme bukan hanya diwujudkan dengan semangat kesatuan dan rasa bangga warga negara terhadap negaranya, namun juga diwujudkan dengan sikap bela negara yang tinggi dari ancaman dari dalam maupun dari luar baik berupa tekanan langsung maupun tekanan yang bersifat tidak langsung.
Pemuda disebutkan oleh banyak pihak sebagai agent of change, hal ini didasarkan karena besarnya peran pemuda direpublik ini. Pemuda seringkali sangat berperan dalam mengubah sejarah republik ini, yang mana Sejarah bangsa Indonesia menunjukkan bahwa pemuda Indonesia memang selalu menjadi pelopor dan memimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Sebut saja tercetusnya Kebangkitan nasional tahun 1908 yang dipelopori oleh orang-orang muda, sumpah pemuda tahun 1928 yang merupakan alat perekat bangsa jelas juga karya para pemuda, Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dipelopori kaum muda, dan Demikian pula reformasi tahun 1998 juga dipelopori oleh para pemuda.
Jadi bisa di katakan bahwa Pemuda merupakan salah satu segmentasi umur yang paling menentukan kemajuan sebuah bangsa. Pemuda seringkali identik dengan generasi yang kaya akan ide, mimpi, semangat, dan idealisme dalam membangun bangsa. Pemuda merupakan cikal bakal pimpinan di masa depan karena Seringkali sebuah negara akan berkembang atau maju apabila negara tersebut memiliki pemuda yang berprestasi dan ada pula negara yang akan hancur apabila pemudanya tidak mempunyai suatu kualifikasi yang jelas akan cita-cita bangsa
Berdasarkan Proyeksi Departemen Pemuda dan Olahraga tanggal 25 Mei 2009, menunjukkan akan terjadi penambahan yang signifikan pada jumlah pemuda di Indonesia pada tahun 2015. Diperkirakan pada tahun 2015 jumlah pemuda Indonesia adalah  74.808.200 jiwa atau bertambah sekitar 700 ribu jika dibandingkan dengan jumlah pemuda pada tahun 2009 yang berjumlah sekitar 74.127.200 jiwa. Sehingga kalau dikalkulasikan dapat disimpulkan bahwa dari 237,512,352 penduduk Indonesia (data perkiraan 24 januari 2009), 74.808.200 (31%) adalah pemuda. Angka 31% merupakan angka yang cukup besar, dimana 31% dapat menjadi angka yang dominan dalam pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, pemuda bisa dikatakan sebagai pelopor perubahan dimanapun berada. Peran pemuda adalah penentu sejarah perjalanan suatu bangsa. Sejarah Indonesia telah membuktikan peran pemuda tersebut. Namun, timbul suatu pertanyaan : apa dan bagaimana kontribusi pemuda untuk masa depan Indonesia ?, bagaimana kondisi pemuda indonesia ?, dan masih adakah jiwa nasionalisme pendahulunya pada diri pemuda indonesia sekarang ?
Pada awalnya, Globalisasi memang identik dengan fenomena ekonomi. Namun dengan berkembang dan semakin rumitnya kehidupan masyarakat, membuat globalisasi secara langsung tidak hanya berkaitan dengan fenomena ekonomi, namun juga fenomena-fenomena lainnya seperti politik, sosial, dan budaya. Globalisasi menghasilkan banyak sekali resiko-resiko baru yang belum pernah ada sebelumnya, terutama resiko terhadap pemuda. Sebut saja, mudahnya nilai-nilai barat yang masuk lewat internet, antene parabola maupun televisi. Disatu pihak memang menguntungkan, karena akan mempercepat proses belajar masyarakat menuju ke tingkat moderenisme. Namun di pihak lain dampak negatif yang ditimbulkan globalsiasipun tidak kalah banyak. Globalisasi mengakibatkan semakin memudarnya apresiasi pemuda terhadap nilai-nilai budaya lokal, sehingga melahirkan gaya hidup individualistis (kepentingan diri sendiri), pragmatisme (yang menguntungkan), hedonisme (kenikmatan sesaat), permisif (membiarkan yang dianggap tabu), bahkan konsumerisme (lebih senang memakai daripada membuat). Sehingga semangat gotong royong yang salama ini dibangga-banggakan akan menjadi semakin luntur, begitu pula rasa solidaritas, kepedulian dan kesetiakawanan sosia. Sehingga dalam keadaan tertentu (musibah, kecelakaan, sakit, dll) hanya ditangani segelintir orang (kurang ada kebersamaan). Globalisasi juga mengakibatkan semakin memudarnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Hal ini tentu saja membawa dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya pemuda. Sebagai negara berkembang, Indonesia sangat rentan akan pengaruh dari luar bahkan terkesan kita mempunyai daya imitasi yang lebih tinggi namun daya seleksi rendah. Sehingga kesannya kita menerima seluruh kebudayaan asing yang masuk tanpa difertilisasi terlebih dahulu.
Lihat saja di berbagai wilayah bangsa Indonesia, pemuda mereka terkesan lebih percaya diri dan lebih merasa gaul apabila berbicara bahasa Inggris dibandingkan bahasa ibunya sendiri, bahasa indonesia. Contoh lain, lihatlah pemuda Indonesia yang lebih merasa bergaya apabila memakai produk-produk impor daripada memakai produk buatan dalam negeri. Mereka lebih menyukai pertunjukan seni dan budaya luar daripada seni budaya nusantaranya sendiri. Mereka lebih menyukai musik-musik barat daripada musik-musik dalam negeri, begitu pula halnya dengan film dan buku.
Apa yang salah dengan kreasi budaya dalam negeri ?. Bukankah apabila kita melestarikan budaya dan kreasi dalam negeri, sama halnya dengan kita melestarikan bangsa ?. Karena, secara tidak langsung kita memberikan kontribusi kepada negara baik berupa dana dari pembelian produk buatan dalam negeri sampai semangat pelaku industri budaya untuk tetap mempertahankan eksistensi mereka dalam berkreasi.
Lalu apa yang terjadi saat budaya yang mereka abaikan tersebut diklaim oleh negara lain ?. Wah, mereka bakalan seperti kebakaran jenggot dan bakalan sangat marah dan bahkan mengumpat dengan kata-kata kotor. Tidakkah mereka sadar apabila dari awalnya mereka tetap setia dan melestarikan budaya yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang dan leluhur bangsa ini, tidak akan ada kejadian pengklaiman. Jika mereka tetap setia memakai batik misalnya, menonton wayang, memakan masakan rendang-kah misalnya, bahkan setia menyaksikan pertunjukan reog ponorogo dan tari pendet, tidak ada satu negarapun yang berani mengambil budaya tersebut. Namun lain halnya dengan sekarang, mereka lebih senang memakai pakaian gaya harajuku-kah namanya, gaya british-kah namanya, ataupun pakaian dengan merek-merek terkenal yang notabene dibuat oleh negara-negara lain. Bahkan, mereka sanggup untuk keluar negeri hanya untuk membeli merek pakaian yang tidak ada di Indonesia. Tidakkah mereka sadar bahwa uang yang mereka buang percuma untuk keluar negeri tersebut sangat berarti  bagi saudara-saudara kita yang sedang kesusahan ?. Tidakkah mereka sadar bahwa masih banyak saudara-saudara mereka yang membutuhkan uluran tangan mereka ?.
Lain lagi dengan pertunjukan wayang, pada akhir-akhir ini pertunjukan wayang biasanya hanya dipenuhi oleh generasi tua, bukan generasi muda, kemana generasi muda ?. Banyak generasi muda akhir-akhir ini beranggapan bahwa kemapanan generasi tua menghambat berlangsungnya proses perubahan (modernisasi budaya) yang sesuai dengan semangat zaman, sehingga tidak jarang terjadi kesenjangan pandangan hidup dan moral antargenerasi yang nyatanya tidak mudah diatasi.
Coba kita tanya kepada diri kita sendiri mana yang lebih disukai drama percintaan Mahabrata dan Srikandi atau Romeo dan Juliet ?. Mana yang lebih menarik, melihat film perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, atau film Transformers, Gladiators, The Lord of The Rings, dsb. Begitu pula dengan makanan tradisional bangsa, kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini kita akan menemukan sebuah stigma yang miris di kalangan generasi muda yang tinggal di perkotaan. Mereka akan sangat malu jika belum mencoba Sushi ataupun makanan-makanan lainnya yang berasal dari luar. Bukan berati kita tidak boleh memakan masakan luar, boleh, tapi bukankah lebih baik kalau kita melestarikan masakan tradisional kita sebelum dicaplok pihak lain. Bukankan lebih baik kalau kita beramai-ramai makan di warteg atau restoran padang daripada makan di restoran jepang. Karena, kita harus sadar sebagai pemuda kitalah kunci kesuksesan negara Indonesia, kalau bukan kita yang melestarikan budaya yang telah diwariskan pendahulu kita, siapa lagi. Kalau bukan pemuda yang bangga akan keasrian Indonesia, siapa lagi.
Pemuda Indonesia saat ini harus kembali menampakkan kontribusinya kepada negara sekaligus kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa, Peran pemuda dalam setiap episode sejarah tentu berbeda. Skenario yang akan dimainkan pasti tidak sama karena kebutuhannya pun sudah berbeda dari waktu sebelumnya. kali ini tidak dengan sumpah pemuda, tidak dengan reformasi  namun dengan menjaga dan meningkatkan semangat nasionalisme untuk senantiasa melestarikan produk dan budaya dalam negeri. Karena tantangan sudah semakin rumit, globalisasi sudah semakin tidak terkendali. Jadi, sebagi pemuda mari kita siapkan diri dengan menyiapkan mental, sikap, kemampuan dan mempelajari lebih jauh tentang bangsa Indonesia baik budayanya, sejarahnya, maupun cita-cita bangsa kedepan. Kerena ditangan pemudalah Bangsa yang kita cintai ini akan ditiitipkan untuk dijaga, dikelola, dan dilanjutkan.
Apapun dan bagaimanapun, kontribusi pemuda dibutuhkan oleh bangsa ini. Kita tidak bisa menilai bahwa yang duduk dalam kekuasaan memiliki kontribusi yang lebih besar daripada mereka yang aktif untuk memberdayakan masyarakat. Jabatan atau kedudukan bukanlah tujuan. Keduanya hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Kita menyadari banyaknya tantangan yang harus dihadapi dan rintangan yang harus diatasi, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam, untuk mewujudkan kemajuan yang kita dambakan.
Akhir kata, pemuda kapanpun dan dimanapun ia berada adalah harapan bagi bangsanya. Harapan untuk perbaikan dan kemajuan ada di tangan mereka. Oleh karena itu, pemuda harus memiliki idealisme yang tinggi untuk bisa menanggung beban yang diberikan di pundaknya. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan jiwa nasionalisme yang tinggi untuk kedepannya Indonesia yang lebih baik. Karena dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, pemuda dapat menjadi motor pendorong, akselerator, ujung tombak sekaligus aktor dalam pengambilan keputusan. Mari kita jaga apa yang telah ada agar tidak ada lagi yang mencurinya.
Marilah kita bersandar dari kata-kata mantan presiden Amerika Serikat John F. Keneddy “Do not ask what the country has been given to us, but ask what we have done to the country” (Jangan tanya apa yang telah negara berikan kepada kita, namun tanyakan apa yang telah kita berikan kepada negara).
Pemuda yang baik adalah pemuda yang selalu mendukung bangsanya dan selalu bangga akan bangsanya dan juga memberikan manfaat  kepada bangsanya. Kita harus sadar bahwa kita adalah pemuda, jika kita sedang beraksi tidak ada yang tidak mungkin. Tetap jaga dan tingkatkan semangat Nasionalisme membara di dalam diri kita dan terus berkarya untuk nusa dan bangsa. Hidup pemuda INDONESIA !!!.

Menumbuhkan Kembali Semangat Nasionalisme Pemuda Indonesia



Tidak ada yang berani menyangkal bahwa Indonesia merupakan satu- satunya negara kepulauan di dunia yang dianugerahi dengan beragam kekayaan alam maupun kekayaan budaya. Begitu banyak budaya daerah yang tersebar di seluruh tanah air, yang kesemuanya itu bermuara menjadi budaya nasional bangsa Indonesia. Perbedaan tersebut tidak lantas menjadi alasan untuk berpecah belah ataupun terkikisnya solidaritas di kalangan masyarakat Indonesia. Hal itu tidak pula layak untuk dijadikan benteng perlindungan bagi tumbuh kembangnya sikap sukuisme yang pada akhirnya merupakan kendala dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Menyikapi kondisi aktual yang berkembang, bangsa ini dihadapkan pada dua tantangan. Pertama, menjaga kemurnian esensi dan hakikat nasionalisme, yang berarti juga menjaga kemurnian nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, berupaya secara aktif mengantisipasi perkembangan situasi zaman khususnya arus globalisasi yang sedemikian hebat pengaruh implikasinya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada gilirannya, dalam mengawal reformasi yang terus bergulir, maka semangat nasionalisme pemuda perlu digugah kembali.
Dalam konteks Indonesia, nasionalisme yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Tujuannya, mengangkat harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan setiap bangsa untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi di dalam hubungan-hubungan sosial. Sebenarnya rasa nasionalisme itu sudah dianggap telah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan. Sedangkan, ciri nasionalisme Indonesia yaitu nasionalisme religius seperti yang dicetuskan Bung Karno (Soekarno) adalah nasionalisme yang tumbuh dari budaya Indonesia.
Nasionalisme religius merupakan perpaduan antara semangat kebangsaan dan keberagamaan. Nasionalisme Indonesia bersumber kepada Pancasila, sedangkan semangat religius bersumber kepada ajaran Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat. Antara nilai-nilai Pancasila dan Islam dapat saling dikompromikan dan tidak berbenturan. Kedua unsur tersebut saling mengisi yang melahirkan semangat nasionalisme yang beragama dan semangat beragama yang nasionalis. Sejumlah aktivis pemuda menilai prinsip nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia umumnya telah mengalami degradasi lantaran terus menerus tergerus oleh nilai-nilai dari luar. Kondisi ini terlihat semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Jika kondisi dilematis itu tetap dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti identitas bangsa. Jika kita tengok sejenak ke belakang puluhan tahun yang lalu, bagaimana pemuda Indonesia berusaha dengan gigih menyatakan keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia dalam satu wadah yaitu “ Indonesia”. Hal demikian bukanlah perkara mudah yang sekali jadi, semudah membalikkan telapak tangan, melainkan menghadapi berbagai kendala. Bayangkan saja, bukankah tidak mudah menyatukan berbagai pendapat yang nota benenya berlatar belakang berbeda?.
Tidak dapat dipungkiri, semakin ke timur kondisi alam Indonesia semakin kering dan panas, hal itu menyebabkan sifat dan karakter masyarakatnya juga menjadi semakin tempramental, sensitif dan mudah sekali tersinggung. Alhasil sikap sukuisme tumbuh subur di kalangan masyarakat Indonesia. Untungnya kondisi demikian tidak menyurutkan semangat para pemuda saat itu. Mereka berusaha mengesampingkan ego kedaerahan mereka demi sebuah janji persatuan. Yakni satu bangsa, tanah air, dan bahasa.
Dengan berjalannya waktu, semangat heroik dalam janji yang terkenal dengan Sumpah Pemuda itu mengalami pergeseran arti maupun pemahamannya. Arti Sumpah Pemuda tentu berbeda dari saat perjuangan dulu. Bila dulu dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara. Kenegaraan Indonesia berkembang sesuai dinamika perubahan yang amat besar terutama berkaitan dengan globalisasi dan reformasi. Dalam perubahan ini setiap komponen bangsa termasuk pemuda dituntut kontribusinya sesuai kemampuan, kompetensi, dan profesinya. Pemuda dituntut untuk mengembangkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa, sikap keteladanan dan disiplin. Di sisi lain, perlu diciptakan suasana yang lebih dinamis dan demokratis yang mendorong pemuda untuk berkiprah dalam transformasi pembangunan baik regional maupun skala global.
Ironisnya, fenomena yang kita temui dalam masyarakat saat ini adalah salah satu hari bersejarah yang menentukan kelanjutan nasib bangsa Indonesia hanyalah dijadikan rutinitas biasa, atau peringatan tahunan yang lewat begitu saja tanpa pemaknaan yang mendalam. Parahnya, jangankan untuk memahami makna di balik arti sumpah pemuda itu sendiri, masih ada saja sebagian bahkan banyak pemuda kita yang tidak mengetahui kapan hari sumpah pemuda itu. Dengan santainya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun mereka berdalih “ yang lalu biarlah berlalu, tidak baik mengungkit- ungkit masa lalu”. Jika kondisi pemuda kita seperti ini, lalu bagaimana nasib bangsa kita ke depan?. Bukankah pemuda disebut- sebut sebagai agent of change yang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik?. Ironis memang, jika bangsa Indonesia sendiri enggan untuk mungkin sekedar tahu hari besar dalam sejarah bangsanya. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu sejarah bangsanya.
Pernahkah kita bertanya pada diri kita” apa yang telah kita berikan pada bangsa kita tercinta ini, atau kebanggaan apa yang telah kita torehkan untuk mengharumkan nama negeri ini? Jawabannya ada dalam diri kita masing- masing pemuda. Apa yang dapat kita berikan pada negara tercinta ini tentu sangat berbeda dengan masa 1928-an. Bila pada masa itu para pemuda selain berikrar setia untuk bangsa Indonesia mereka juga mempertaruhkan nyawa dan raga untuk meraih kemerdekaan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan. Saat ini yang dapat kita berikan kepada bangsa ini adalah prestasi-prestasi membanggakan untuk semua rakyat Indonesia. Sedikitpun apa yang kita berikan kepada bangsa bukan menjadi sebuah ukuran, namun makna di dalam pemberian tersebut.
Potret buram kondisi pemuda kita saat ini nampak jelas di depan kita. Mungkin ada sebagian putra- putri bangsa ini yang telah mengharumkan nama bangsa di mata dunia lewat berbagai prestasi yang mereka torehkan. Akan tetapi, tidak sedikit pemuda- pemudi bangsa dengan berbagai masalah yang mereka anggap sudah lumrah dan biasa terjadi di kalangan pemuda, seperti tawuran, seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Mereka berlomba- lomba berkiblat pada dunia barat. Kecintaan pada produk dalam negeri mulai hilang dengan semakin banyaknya produk asing (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri Indonesia., Membeli produk luar negeri mereka anggap suatu kebanggaan tersendiri yang dapat menaikkan prestise mereka di hadapan masyarakat. Tampaknya westernisasi telah menyulap pemuda negeri ini menjadi lupa akan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia yang masih memegang teguh budaya timur. Selain itu, munculnya sikap individualism yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Jika kita gambarkan, nasionalisme saat ini berada di titik nadir, dimana semua kebijakan berkiblat pada neoliberalisme, sehingga kesejahteraan rakyat jauh dari cita- cita pendiri bangsa. Pada tahun ini juga, moralitas Indonesia mencapai titik kulminasi terendah. Korupsi bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga telah menjadi bagian dari mata pencaharian untuk mendapatkan tambahan bagi biaya hidup yang semakin membumbung tinggi. Sedangkan bagi yang sudah hidup layak, korupsi merupakan bagian dari kekuasaan.
Lalu, siapa yang patut dipersalahkan untuk semua permasalahan pelik yang melanda negeri ini?, pemerintah ?, globalisasi? atau memang nasib bangsa kita seperti ini?. Sangatlah tidak tepat jika kita mengkambinghitamkan pemerintah atas semua kekacauan yang melanda negeri ini, karena pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya. Namun semua itu tidak akan berarti apa- apa tanpa dukungan dari segenap masyarakat Indonesia. Atau sangatlah tidak adil melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada pemuda yang sebenarnya mereka sendiri berada dalam proses pencarian jati diri mereka masing- masing, serta salah besar jika kita menyalahkan globalisasi. Karena kehadiran globalisasi sendiri tidak bisa kita hindari. Globalisasi memang berpotensi memberikan dampak positif dan juga dampak negatif bagi bangsa Indonesia. Hanya ada dua pilihan dalam era ini, menjadi tuan rumah atau mungkin pembantu di negeri sendiri?. Semua itu tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.
Globalisasi bisa menguntungkan apabila kita menyikapinya dengan benar. Letak dari masalah ini menunjukkan bahwa kurang kokohnya fondasi mental dari para pemuda kita yang tentunya berpangkal dari bagaimana mereka memperoleh pendidikan pertama dalam keluarga. Jika pemuda bangsa telah dibekali pendidikan mental maupun lahiriah yang kuat maka hal tersebut tidak akan terjadi. Sebab jika kita bandingkan bagaimana cara mendidik orang dulu jauh sebelum perkembangan teknologi mempengaruhi hidup mereka tampak berbeda dengan kondisi sekarang, dimana teknologi komunikasi dan informasi berkembang dengan pesatnya, dan segala sesuatu menjadi sangat mudah. Seakan tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bermunculan bagaikan jamur yang membela hak asasi manusia, Komisi Nasional (KOMNAS) HAM dan perlindungan anak yang hadir menuntut keras sekecil apapun kekerasan pada anak. Hasilya memang sebanding, bermunculan anak- anak dengan prestasi yang gemilang. Namun sedikit hambar, karena tidak dibarengi dengan fondasi keagamaan yang kokoh. Jika kita perhatikan, nampak ketidakseimbangan antara IQ (intelegensi Quetient), EQ (Emotional Quetient), dan SQ (Spiritual Quetient). Akibatnya, korupsi terjadi dimana- mana. Ironisnya, pelaku korupsi bukanlah orang yang tidak berpendidikan, melainkan seseorang dengan rentetan gelar di belakang namanya yang cukup menjadi bukti bahwa mereka adalah orang- orang dengan tingkat intelektual yang tinggi. Inikah hasil cetakan zaman modern? Mungkin berhasil secara materiil tapi nol besar untuk pendidikan mental.
Walau bagaimanapun bukanlah sikap yang bijak jika kita hanya bisa saling menyalahkan. Apalagi jika kita mengkambinghitamkan pemuda. Karena hal itu tidak akan mampu menyelesaikan segala permasalahan yang menimpa negeri kita tercinta. Alangkah jauh lebih baik jika kita menyatukan segenap kemampuan yang kita miliki demi kemajuan negeri ini. Ada beberapa langkah alternatif yang bisa ditempuh untuk menumbuhkan kembali nasionalisme di kalangan pemuda, diantaranya: pertama, perlu adanya redefinisi atas pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia. Kegagalan meredefinisi nilai-nilai nasionalisme telah menyebabkan hingga kini belum lahir sosok pemuda Indonesia yang dapat menjadi teladan. Padahal tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945. Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara. Dengan demikian peran orang tua masih sangat mendominasi segala sector kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kedua diharapkan pemerintah pusat dapat mempercepat distribusi pembangunan di semua daerah agar tidak tumbuh semangat etnonasionalisme dalam diri pemuda. Ketiga, Menempatkan semangat nasionalisme pada posisi yang benar. Nasionalisme tidak dapat diartikan secara sempit. Nasionalisme harus didefinisikan sebagai suatu upaya untuk membangun keunggulan kompetitif, dan tidak lagi didefinisikan sebagai upaya untuk menutup diri dari pihak asing seperti proteksi atau semangat anti semua yang berbau asing. Profesionalisme adalah salah satu kata kunci dalam upaya mendefinisikan makna nasionalisme saat ini. Dengan demikian, nasionalisme harus dilengkapi dengan sikap profesionalisme.
Ke depan, generasi muda sebagai generasi penerus berada dalam posisi revitalizing agents. Pemuda sebagai sumber kekuatan moral reformasi perlu tetap terbina agar selalu berlandaskan pada kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur, berkepribadian nasional dan berjiwa patriotisme. Beberapa point di atas merupakan agenda penting yang harus kita lakukan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri di era globalisasi. Karena walau bagaimanapun Kerusakan yang terjadi pada generasi muda, adalah sebuah isyarat, bagi kehancuran sebuah bangsa. Bagaimana tidak, pemuda hari ini, adalah orang tua yang akan datang. Bagaimana mungkin suatu bangsa bisa berjaya, jika generasi mudanya tidak punya jati diri.

NASIONALISME DI RANAH MAYA


Nasionalisme di Tapal Batas Dunia Maya

Saya melihat seri artikel Nasionalisme di Tapal Batas di Koran KOMPAS. Artikel ini membahas apa arti nasionalisme bagi para penduduk di perbatasan wilayah NKRI.
Tapi anehnya, tidak satu pun orang terpikir buat mengungkit soal Nasionalisme di dunia maya. Saya tidak bicara perseteruan Indonesia Malaysia di forum dan internet, sebab bagi saya itu tidak mencerminkan fenomena dunia Maya. Ataupun membahas prestasi para atlit game Indonesia yang mengharumkan nama bangsa diberbagai turnamen internasional.
Saya ingin membahas mengenai sebuah fenomena yang jarang sekali orang perhatikan. Landasan fenomena ini adalah perkembangan dunia maya dalam dua segi, yaitu: Perangkat kasar (hardware) komputerisasi saat ini yang sangat mendukung kebutuhan main game para konsumennya yang jelas sudah jadi kebutuhan primer di abad ini.
Kita bisa melihat pasar dunia game terus bertumbuh, menggila, hingga menjadi industri raksasa yang bisa melalap 10x APBN negara kita dengan mudah. Jumlah gamer mencapai jutaan, jika bukannya sudah milyaran orang. Lalu dari segi infrastruktur, kabel optik dan layanan akses internet murah menyediakan sebuah landasan bagi kecepatan yang memadai buat saling menukar informasi, membangun sebuah platform atau cetakan yang luar biasa mumpuni, termasuk untuk membangun sebuah negeri di ranah maya.
Ajaibnya Dunia Maya
Dunia dan ranah maya melahirkan fenomena ajaib. Pernahkah anda membayangkan betapa hebatnya umat manusia bisa mencetak “petak-petak, bangunan, tanah, uang, ruang, dan waktu” dalam dunia Maya? Dan betapa kagum dan juga ngerinya melihat anak-anak zaman sekarang berani menukarkan uang betulan dengan uang di dalam permainan dunia Maya? Saya punya selusin teman yang siap bersaksi mereka menambang uang dari sana. Salah seorang teman saya melihat sendiri seorang anak SMP memberikan koper penuh uang (puluhan juta rupiah) demi membeli karakter game yang ia jual. Meski kegiatan tukar menukar antara uang mainan ini dilarang oleh admin game, tapi di setiap game online yang popular selalu ada penjual dan pembelinya. Padahal, di RL, siapa yg mau beli uang Monopoli atau uang bergambar nyeleneh? Sungguh ajaib orang kini menganggap ranah Maya, dengan identitas palsu mereka, peran mereka, sebagai bagian diri mereka.
Mana Identitas Negeriku?
Jika demikian, apakah ada identitas bangsa kita di sana? Adakah nasionalisme di sana? Saya hanya bisa menggelengkan kepala. Yang ada dalam hampir semua game online, menurut saya, hanyalah kesukuan. Ambil contoh: dalam permainan ragnarok online, beberapa pemain yang terjalin ikatan khusus sepakat membentuk Guild atau persekutuan. Para anggotanya rela berjuang demi kepentingan Guild. Beberapa Guild saling membuat aliansi atau membuat anak Guild. Sampai di sana saja konsep “kesukuan” mentok. Bahkan jika salah satu Guild mengontrol sebuah benteng atau kota, ia hanya bisa dikatakan Raja sebuah kota dengan nama antah berantah, dalam dunia antah berantah. Jika ia berbicara kepada penduduk Indonesia di dunia nyata mengenai pencapaiannya, prestasinya, maka para penduduk negeri kita yang tercinta ini hanya bisa mengangkat bahu dan mengacuhkannya. Tidak peduli. Sebab tidak ada jalinan emosi bagi mereka. Mereka tidak paham dan tidak turun langsung terhadap Guild atau permainan itu. Satu-satunya permainan yang berhasil mengawinkan, memanfaatkan, dan memancing keasyikan bermain game dengan semangat nasionalisme adalah genre Republik.
UNIK!
Dengan sengaja memberikan setting peta dunia betulan, negara betulan sebagai wadah nasionalisme dan tanah air tempat para warga lahir, lalu memberikan teritori dan batasannya yang akurat, lalu sistem interaksi dengan negara-negara lain berupa militer dan pakta, sistem politik partai, DPR, dan Presiden, lalu sistem ekonomi, lalu media massa yang bersifat dari pemain, oleh pemain, dan untuk pemain,….. dan slogannya “menulis ulang sejarah”, tidak heran permainan ini ditakdirkan untuk menjadi unik dan serius. Sebab orang bermain jauh lebih serius saat harga diri bangsa dipertaruhkan.
Evolusi, Revolusi, dan Bangkitnya Bangsa Utuh di Ranah Maya
Dari skema ini wajar timbul dinamika politik, sosial, dan bernegara. Dibentuk dari tataran terkecil berupa rakyat, pengusaha, militer, para penulis media, hingga tokoh partai, massa partai, politikus, anggota DPR, hingga aparat DPR, Kabinet, Presiden, bahkan kaum separatis. Dalam latar ini, semua orang memainkan peran mereka sendiri (dalam bentuk nama id, jenis kelamin, peran, gaya, nada, tulisan, dan ideologi), tapi anehnya selalu bergravitasi kepada negara mereka sendiri.

Meski para pemain pada kenyataannya jantan di RL tapi mengaku betina di dunia maya, meski mereka berpaham Kapitalis di RL tapi ikut partai Sosialisme atau bahkan Komunis di dalam game, mereka tak bisa menanggalkan sifat Nasionalisme ini. Mereka tak bisa tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia, istilah Indonesia, budaya Indonesia, bahkan berusaha menyebarkan hal-hal ini ke seluruh New World. Para pemain bergabung juga karena rasa Nasionalisme.
Saya sudah sebutkan di atas: Indonesia menguasai Australia? Argentina? Afrika Selatan? Amerika? cukup menggugah. Sebuah fenomena lain (nanti akan dibahas di kolum: Kala RL Bertemu eRep) adalah fenomena dibawa sertanya perseteruan antar negara di RL ke dalam permainan.
Tapi, ke arah mana Nasionalisme ini membawa eIndonesia? Semangat segelintir pemain eRepublik yang ingin mengharumkan nama bangsa eIndonesia nyatanya berhasil membentuk eIndonesia sebagai negara Adidaya, Imperialis, berpaham Sosialisme, dan kultur budaya yang tegas dan berwibawa bagi orang asing, tapi panas, tajam, dan fun di dalam dinamika politik dalam negerinya.

Tidak hanya melulu jadi makanan kaum elit politik dan aneka sandiwara yang mereka mainkan dalam kenyataan di RL. Muak kita melihat elit politik yang tak membumi, merakyat, dan tak bisa disentuh, untouchable, invulnerable, sekaligus muka tembok terhadap amanat derita rakyat.
Indonesia yang terpuruk di dunia nyata menjadikan semangat para pemain dan para Bapak dan Ibu (Presiden pertama eIndonesia adalah perempuan) dan Pendiri Bangsa eIndonesia membara untuk tidak mengulang nasib bangsa di dunia nyata.
BERLAWANAN DENGAN LOGIKA NYATA
Berlawanan dengan kenyataan di lapangan yang menggenaskan dan anehnya telah kita terima bulat-bulat dan kita lakoni juga (kita semua sesungguhnya terbenam dalam budaya koruptor) :
Korupsi hampir tidak ada dalam kabinet dan pemerintahan. Guild-guild berupa Partai Politik asyik bersaing memperebutkan tampuk kekuasaan, tapi siapa pun yang menduduki tampuk tertinggi, semua akan didukung seluruh rakyat.
Kinerja pemerintahan berlangsung sangat apik untuk ukuran manusia-manusia yang jarang atau TIDAK PERNAH saling bertemu muka, hanya berbagi informasi lewan papan ketik dan layar monitor komputer atau hape, namun rela bahu membahu begini rupa membangun sebuah negeri, layak dipertanyakan apakah moral, etika, semangat saling memercayai, atau semangat nasionalisme yang luhur itu sudah pudar dari lubuk hati warga eIndoensia.
Lalu jutaan bit huruf dan gambar, ratusan ribu menit yang didedikasikan para penulis koran dan penggagas artikel di eIndonesia dari lahir hingga sekarang menjadi saksi bahwa demokrasi tak pernah padam. Juga semangat untuk mencintai eIndonesia lewat kepedulian, gagasan, dan cara bermain yang khas dari masing-masing pemain. Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.
Utopia
Negeri yang idealkah? Tidak juga. Banyak skandal, kritik, perang idealisme, perang kebijakan, debat tak kunjung berakhir di rapat DPR, konflik antara pengusaha dan rakyat kecil, subsidi, Partai Politik, regu militer, bahkan aksi mata-mata ala BAKIN ada di dalam permainan ini.
Tapi semua adalah dalam naungan satu atap. Negeri Kesatuan Republik eIndonesia.
Inilah wujud suara rakyat (ingat bahwa: gamer pun rakyat) di dunia Maya. Inilah Nasionalisme yang bisa diakses siapa saja dengan modal komputer dan internet, yang hidup dan berkembang sesuai dinamika dan kontribusi semua orang. Inilah jenis Nasionalisme yang bisa dibicarakan kepada orang-orang non-eRepublik: “eIndonesia menguasai Australia loh!” dengan rasa bangga dan eksotik, membangkitkan impian dan hasrat mereka menyaksikan dan berkontribusi sendiri kepada Indonesia perkasa tanpa harus menanti sampai munculnya Ratu Adil. Inilah suara rakyat yang menghendaki eIndonesia sebagai negara yang kuat, bersih, berwibawa, berdinamika, dan berbudaya. Tanyakanlah kepada orang eMancanegara, baik sekutu maupun lawan, dan mereka akan kurang lebih berkata: “We know eIndonesia. They are strong country, one of the best Empire ever, and knows how to play and keep their cool and fun side. Respect!”